Posted on
Haji Omar Said Tjokroaminoto (1882-1934) adalah salah satu pemimpin pergerakan nasional dari golongan cendekiawan muslim. Ia menjadi figur politik yang memiliki peran vital di masa pergerakan nasional pada awal abad XX.
Kiprahnya tidak bisa dilepaskan dari rahim Sarekat Islam. Ketika bergabung dengan Sarekat Islam, Tjokroaminoto mendarmabaktikan dirinya untuk pengembangan organisasi ini secara revolusioner. Basis kaderisasi yang dibina oleh Sarekat Islam telah menjadi media perjuangan strategis dalam melawan belenggu penjajahan.
Di samping sebagai seorang organisator handal, Tjokroaminoto juga dikenal sebagai orator ulung sekaligus juru tulis yang piawai. Satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari Tjokroaminoto adalah soal kepemimpinan kharismatik hingga ia diberi gelar sebagai De Ongekroonde Van Java atau Raja Jawa tanpa Mahkota.
Terbukti, Tjokroaminoto dianggap telah membawa pengaruh besar dalam mengkonsolidasikan perjuangan antikolonialisme bagi rakyat bumiputera. Selain itu, Tjokroaminoto juga menjadi guru sekaligus mentor bagi para pemimpin besar bangsa Indonesia di kemudian hari. Ide-idenya mengenai sosialisme, nasionalisme, dan islam kelak menjadi warisan berharga yang mewarnai akar berdirinya negara ini.
Kemapapanan berpikir, seni kepemimpinan, dan kharisma yang ada dalam dirinya menjadi modal bagi Tjokroaminoto untuk memperjuangkan kehidupan rakyat yang sepenuhnya berdiri diatas kaki sendiri.

Biografi dan Rekam Jejak Sang Guru Bangsa

Raden Mas Haji Omar Said Tjokroaminoto atau yang lebih familiar dikenal dengan H.O.S Tjokroaminoto merupakan salah satu tokoh besar dalam sejarah pergerakan nasional. Tjokroamnito lahir pada tanggal 16 Agustus 1882 di Bakur, Ponorogo, Jawa Timur.
Tjokroaminoto merupakan anak kedua dari dua belas bersaudara. Ia lahir dari keluarga ningrat sekaligus keturunan ulama terkemuka dari Ponorogo yakni K.H Kasan Besari (kakek buyut) yang disebut oleh Gus Dur sebagai hulu kepemimpinan politik dan agama di tingkat nasional. Anggota keluarganya berkarir sebagai pegawai pemerintah kolonial pada masa itu. Ayahnya, R.M Tjokroamiseno adalah seorang wedana atau asisten bupati di Madiun. Sementara itu, sang kakek, R.M Adipati Tjokronegoro pernah menjabat sebagai Bupati Ponorogo.
Terlahir dari keluarga ningrat, membuat Tjokroaminoto memiliki privilage untuk bisa mengenyam akses pendidikan. Di masa muda, Tjokroaminoto menyelesaikan program studinya di Opleiding School Voor Indlanche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang tahun 1902. OSVIA sendiri merupakan sekolah khusus pada masa kolonial yang hanya diperuntukkan kepada para bangsawan lokal. Melalui OSVIA, para bangsawan lokal yang bersekolah ini telah dipersiapkan untuk menjadi pegawai pemerintah yang ditempatkan ke dalam birokrasi pemerintah kolonial Belanda.
Beliau sempat bekerja sebagai pegawai administratif pemerintah kolonial yang ditempatkan di daerah Ngawi. Selain itu, pada tahun 1907-1910 Tjokroaminoto juga mengikuti sebuah kursus studi teknik mesin di Burgerlijke Avondschool Afdeeling Wertuigkundige (BAS). Selesai menempuh studi di BAS, ia bekerja sebagai karyawan di pabrik gula Rojogampi, Surabaya hingga tahun 1912.

Membela Lewat Tulisan

Sepak terjang Tjokroaminoto dalam iklim pergerakan nasional dimulai ketika ia aktif menekuni dunia surat kabar. Tercatat ia merupakan penulis aktif sekaligus asisten staff dalam laman surat kabar Bintang Soerabaia. Melalui tulisan, Tjokroaminoto membela dan memperjuangkan nasib rakyat bumiputera. Tulisan-tulisan yang dipublikasikan dalam laman surat kabar tersebut merupakan bentuk kritik terhadap serangkaian kebijakan pemerintah kolonial yang menyengsarakan rakyat. Tajamnya tulisan yang dilontarkan oleh Tjokroaminoto secara tidak langsung menjadi api pemantik yang mendorong perjuangan rakyat pribumi untuk lepas dari belenggu penjajahan.
Tjokroaminoto juga banyak menuangkan ide dan gagasan pembaharuanya mengenai konsepsi pemikiran politik dan kebangsaan yang menjadi tema sentral pada masa itu. Kehadiran surat kabar telah menjadi sarana strategis untuk memberdayakan kecakapan intelektual rakyat. Ia menganggap, surat kabar merupakan media yang efektif untuk membangun kesadaran kolektif kepada rakyat bumiputera dalam melawan kolonialisme. Ide-idenya mengenai konsepsi Islam , Nasionalisme, dan Sosialisme merupakan gagasan besar yang banyak dituangkan dalam tulisanya.

Memadukan Gagasan Islam dan Sosialisme

Secara konkret, salah satu warisan Tjokroaminoto yang paling spektakular adalah inovasinya untuk menggabungkan ajaran Islam dengan Sosialisme. Menurut Pasha (2002), Tjokroaminoto memandang bahwa Islam dan Sosialisme bukanlah dua kutub yang saling bersebrangan dan bukanlah dua variabel yang patut untuk dipertentangkan. Akan tetapi, keduanya bisa saling melengkapi dan menghasilkan perpaduan yang sangat apik. Tjokroaminoto adalah salah satu tokoh besar muslim di Indonesia yang berhasil menggagas perpaduan Islam dan Sosialisme untuk pertama kalinya.
Tjokroaminoto memang mengakui bahwa dirinya tidak pernah phobia dengan ide-ide sosialisme yang memang kala itu tengah bersemi di Hindia-Belanda. Ketertarikanya terhadap sosialisme ditunjukan dengan munculnya tulisan-tulisan Tjokroaminoto yang mencoba menginterpretasikan gagasan revolusioner tersebut.
Tulisan-tulisan Tjokroaminoto banyak dimuat di laman surat kabar resmi Sarekat Islam, Otoesan Hindia, & Bintang Soerabaia. Dari sekian banyak ide yang pernah ditulis Tjokroaminoto, setidaknya ada beberapa judul yang paling mencuri perhatian, yakni “Apakah Sosialisme itu” dan “Sosialisme Berdasar Islam” yang terbit pada Januari tahun 1913. Selanjutnya, pada November 1924 Tjokroaminoto juga menerbitkan sebuah karya intelektual dengan judul “Islam dan Sosialisme”. Meskipun ketertarikanya terhadap sosialisme tidak bisa disangkal, turunan dari paham inilah yang pada akhirnya menjadi duri dalam daging serta membelah kesatuan organ Sarekat Islam dan memunculkan sebuah wadah baru yakni Sarekat Merah yang nantinya berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Amelz dalam “H.O.S. Tjokroaminoto: Hidup dan Perjuangannya, (1952:36)” mengatakan beliau dalam kursusnya tidak pernah mencela Karl Marx dan Friedrich Engels, bahkan berterima kasih kepada keduanya sebab teori Histori Materialisme Marx dan Engels telah menambah jelasnya bagaimana kesatuan sosialisme yang dibawa Nabi Muhammad, sehingga kita sebagai orang Islam merasa beruntung sebab tidak perlu mengambil teori yang lain lagi. Tjokroaminoto memang seolah-olah sedang mencoba membangun imajinasi sosialisme yang diaosisasikan secara langsung dengan ajaran Islam.
Di sisi lain, Tjokroaminoto juga ingin membuktikan bahwa ide Sosialisme merupakan kontekstualisasi ayat suci yang terkandung dalam ajaran agama Islam yang sama-sama memiliki tujuan untuk menciptakan “kesalehan sosial” yang dicirikan dengan kebebasan, keadilan, kesejahteraan, persamaan, dan solidaritas.
Secara eksplisit, Tjokroaminoto membahas tentang Islam dan Sosialisme yang menyatakan bahwa Sosialisme yang dicita-citakanya adalah sosialisme yang bersandar pada kaidah agama Islam. Sehingga umatnya memiliki tanggung jawab baik secara intelektual ataupun moral dalam mentransvaluasikan ajaran-ajaran sosialisme yang diperintahkan dalam nash agama. Sosialisme yang dimaksud oleh Tjokroaminoto adalah sosialisme yang telah berkembang kurang lebih selama 13 abad yang secara teoritis telah dipraktikan oleh Rasulullah serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ajaran-ajaran Islam yang dianggap memiliki spirit asas sosialisme tercermin dalam gambaran kepemilikan properti, pengharaman riba, pengupahan, sedekah, zakat, sikap hidup bersahaja, dorongan untuk memerdekakan budak, serta persamaan hukum dan sosial diantara sesama. Amaliyah sosial yang menekankan prinsip moralitas etis inilah yang menjadi salah satu simbolisasi bahwa semangat sosialisme secara inheren merupakan bagan integral yang sudah dicontohkan dalam ajaran Islam.
Meskipun demikian, apabila dilihat secara seksama sebenarnya Tjokroaminoto tidak sepenuhnya memadukan antara ide sosialisme dari barat dengan Islam. Pemikiran Islam dan Sosialisme ala Tjokroaminoto bukanlah Islam berjubah Marxisme-Sosialisme begitupun sebaliknya, karena hal itu hanya akan menafikkan posisi Islam itu sendiri. Pada hakikatnya, ia hanya ingin melakukan refleksi historis untuk membangkitkan realitas kaum muslimin dengan menggali akar-akar revolusioner yang terkandung dalam ajaran Islam. Tjokroaminoto hanya meminjam istilah sosialisme dari barat untuk mendefinisikan semangat progresif kaum muslimin yang bersandar pada tradisi klasik yakni Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian, fusi pemikiran Islam dan Sosialisme yang dipromosikan oleh Tjokroaminoto merupakan refleksi historis, kultural, dan intelektual dari identitas umat Islam itu sendiri dan telah menjadi rujukan sebagai ideologi pembebasan.

sumber: kumparan.com