Posted on
MUTIARA-MUTIARA ILAHIAH DI DALAM AL-QUR’AN
MUTIARA-MUTIARA DI DALAM KALIMAT BASMALAH
MAKNA KATA Kata الرَّحْمنِ dan kata الرَّحِيْمِ DI DALAM BASMALAH
Ahmad Thib Raya UIN Jakarta
Jakarta-Matraman, Kamis, 24 Maret 2022
Kata الرَّحْمنِ dan kata الرَّحِيْمِ. Kedua kata ini dapat dilihat dari berbagai segi.
(a) Dilihat dari segi bentuknya, kata ini merupakan bentuk kata sifat yang mengandung makna superlatif, makna “sangat, amat, maha”. Keduanya termasuk sifat-sifat Allah yang Maha Agung, dalam deretan “al-Asma’ al-Husna” (nama-nama yang

terbaik

/terindah). Kata ini berasal dari kata kerja رَحِمَ – يَرْحَمُ, yang berarti “merahmati, memberi rahmat, memberikan keberdayaan”. Bentuk dasar dari semua kata ini adalah رَحْمَةٌ. Dari kata ini pulalah lahir kata رَحِمٌ dalam kata صِلَةُ الرَّحِمِ.

(b) Dilihat dari segi maknanya. Sebelum menjelaskan makna الرحمن dan الرحيم ini perlu dilihat terlebih dahulu makna الرَّحْمَة (rahmat). “Rahmat” seringkali diartikan dengan “kasih sayang”, seperti yang sering terungkap dalam kalimat مودة ورحمة. “Rahmat” pada hakikatnya mengandung makna yang lebih dalam dan luas daripada itu, yaitu “pemberdayaan, membuat orang lain berdaya, membuat orang yang tidak berdaya menjadi berdaya”.
Rahmat Allah artinya “Allah mencurahkan perbuatan atau sifat memberdayakan kepada hamba-hamba-Nya yang tidak berdaya”. Rahmat Allah, yaitu pemberdayaan Allah kepada seluruh manusia, yang tidak membedakan antara yang beriman, dan tidak, yang muslim dan tidak, yang bertauhid dan musyrik, dan bahkan beragama dan tidak beragama. Rahmat Allah bersifat universal.
Kata الرحمن dan kata الرحيم mengandung makana “maha, sangat, amat” sehingga berarti “Yang Maha, Amat, Sangat Memberi rahmat”. Kata الرحمن dalam penggunaan sehari-hari selalu diartikan dengan “Yang Maha Pengasih” dan الرحيم diartikan dengan “Yang Maha Penyayang”. Arti ini sepertinya sangat sederhana. Padahal menurut para ulama, kedua kata ini mengandung makna yang sangat luas dan dalam. Kata الرحمن diartikan dengan “Yang Maha Memberi Nikmat yang besar-besar, dan bersifat materi, dan الرحيم diartikan dengan “Yang Maha Memberi Nikmat yang kecil-kecil, dan bersifat inmateri”. Diartikan pula dengan “Yang Maha Memberi Nikmat, tiada bandingan dan tandingannya”.
Menurut al-Khaththaby, salah seorang pakar bahasa Arab, sifat rahmannya Allah bersifat umum, mencakup semua makhluk, dalam memberikan rezeki dan kemaslahatan bagi mereka, dan mencakup seluruh manusia, baik yang kafir maupun yang mukmin, selama berada di dunia ini. Adapun rahimnya Allah itu hanya diberikan secara khusus kepada kaum mukminin saja baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, rahman itu lebih umum cakupan, sedangkan rahim lebih khusus.

sumber: facebook.com/ahmad.thibraya.12