Posted on
Para pionir homeschooling adalah mereka yang gelisah melihat cara kerja sistem persekolahan modern. Konseptor besar gerakan homeschooling justru datang dari kalangan guru. Pelopor Home Schooling John Holt (1923-1985).
Holt merasa kecewa karena dia mendapati bahwa para siswanya ternyata di sekolah tidak belajar! Eh, tapi kalau tidak belajar, ngapain mereka di sekolah seharian?
Kata John Holt: mereka di sekolah bukan belajar, melainkan mengejar nilai. Bagi Holt, belajar dan mengejar nilai itu adalah dua aktivitas yang jauh berbeda. Anak bisa dapat nilai tinggi meski tidak belajar. Dan di sekolah, para siswa mengembangkan 1001 siasat supaya bisa dapat nilai tinggi tanpa harus belajar.
Di Indonesia pada masa kolonial adalah KH. Agus Salim yang mendidik anak-anaknya di rumah, tidak mengirimkan mereka ke sekolah. Ini bukan mau ngirit, tapi Salim tidak percaya sekolah di zaman kolonial mampu memberikan pendidikan yang paling dibutuhkan. Dari 8 anak, semuanya dididik sendiri bersama istrinya, kecuali anak bungsunya ketika usia Salim sudah terlalu lanjut dan Indonesia sudah merdeka. Pendidikan keluarga Salim biasanya berlangsung sambil bermain atau ketika sedang makan.
Menurut anak ke-8, Siti Asiah atau yang akrab disapa Bibsy, paatjedan maatje(panggilan sayang anak-anak Salim untuk ayah-ibunya) sering menyanyikan lagu-lagu yang liriknya diambil dari karya para sastrawan dunia. Selain itu ayahnya juga pandai melucu sehingga bisa memikat dan tak membosankan. Untuk melatih kemampuan berbahasa, sedari kecil mereka telah mengajak anak-anak berbicara Bahasa Belanda, sehingga bahasa itu ibarat bahasa ibu mereka. Ketika ada teman yang menegur karena Salim dianggap meremehkan sekolah formal, Salim memanggil salah satu putrinya dan disuruhnya mengobrol dengan dalam bahasa Belanda.Teman Salim itu kalah.
Pendidikan home schoolingala Agus Salim tak semata-mata dimaksudkan membuat anak pintar, namun juga memperhatikan pertumbuhan jiwa mereka. Ia bersama istrinya, tak menginginkan anak-anak terkekang oleh kehendak orang tua. Oleh karenanya, ia pantang memberi kualifikasi seperti “kamu nakal” atau “kamu jahat” kepada anak-anaknya. Meski tak mengenyam pendidikan formal, namun anak-anak Salim bisa tumbuh dan “jadi orang”.
Salah satu putranya, Islam Besari Salim, menjadi perwira pejuang gerilya di Sumatera dan menjadi petugas penghubung penting di masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Terakhir ia pernah menjadi atase militer di KBRI Peking (sekarang Beijing). Ketika W.R. Supratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan biola pada acara akbar Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928, putri sulung Agus Salim, Theodora Atia yang biasa disapa Dolly, pada usia usia 15 tahun, mengiringinya dengan piano.
Sumber: faisalbasri.com
Referensi: Stevens, Mitchell. 2001. Kingdom of Children: Culture and Controversy in the Homeschooling Movement. New Jersey: Princeton University Press.
Bidang Media Dan Penggalangan Opini
PB Pemuda Muslimin Indonesia

sumber: pemudamuslim.org