Posted on

Surabaya – Minyak Goreng Masih Langka dan Harganya melangit, SEMMI Cabang Surabaya Menutut Pemerintah Kota Surabaya Untuk Menuntasakan permasalahan masyakarat ini.

Beredarnya isu kelangkaan minyak goreng di Indonesia mendapat respon dari Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia Cabang Surabaya (SEMMI). Kejadian ini dirasakan oleh seluruh penduduk di Indonesia selama beberapa bulan terakhir tak terkecuali masyarakat kota Surabaya.

Langkanya minyak goreng membuat harga semakin mencekik masyarakat. Apalagi ini mendekati bulan suci Ramadhan yang mana kebutuhan primer masyarakat semakin banyak.

Achmad Donny selaku Ketua Umum SEMMI Cabang Surabaya berpesan, “Kami mengutuk keras adanya dugaan penimbunan minyak goreng hingga menyebabkan kelangkaan dan melangitnya harga minyak goreng.”
Lanjut nya Achmad Donny juga menduga adanya kejanggalan terjadinya permasalahan ini,
“Saya menduga ada oknum eksportir yang menyalahi aturan atau ada beberapa aturan yang bisa jadi disimpangi. Artinya saya menduga sebenarnya tidak ada kuota impor atau kuota impor itu sebenernya 10 tapi ternyata yang ekspor misalnya 50 jadi melebihi kuota ekspor. sehingga kemudian terjadi kelangkaan minyak goreng di Indonesia dan menjadi mahal dan didukung dugaan banyaknya oknum yang tidak bertanggung jawab dengan menimbun minyak goreng sehingga langka,”

Ia juga menilai kelangkaan minyak goreng ini karena adanya miss-management dari jumlah kebutuhan dengan jumlah ketersediaan. Harga minyak goreng yang semakin mahal dan langka, lanjut Achmad Donny menilai hal ini sangat memberatkan ekonomi masyarakat. Hal tersebut semakin memprihatinkan ketika Indonesia sebenarnya adalah salah satu negara pengekspor minyak kelapa sawit mentah yang merupakan bahan baku minyak goreng.

Terakhir, Achmad Donny Ketua Umum SEMMI Cabang Surabaya berharap pemerintah kota Surabaya bisa fokus untuk mengawal dan menjaga kebutuhan pokok di kota Surabaya utamanya dan SEMMI Cabang Surabaya juga berpesan untuk Pemerintah Pusat juga turut serta mengawal dan menjaga kebutuhan pokok masyarakat, ketimbang mengutamakan wacana perpindahan ibu kota negara (IKN) baru.

sumber: mediaindonesiaraya.co