Posted on

Surakarta, Sonora.ID – Seperti apa bentuk rumah Jawa pada tahun 1700-an atau pada masa penjajahan Belanda? Jika ingin melihat, kunjungi Kampung Batik Laweyan Solo.

Di sana Anda bisa menemukan Omah Lawas Laweyan.

Lokasi persis rumah ini di Jalan Sayang Wetan, RT 01 RW 02, Kec. Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah.

Mural di dinding gang bisa menjadi landmark bagi yang berniat berkunjung. Itu juga tertulis di kayu lapis di dinding ‘Omah Lawas’.

Rumah keluarga batik Martodinaman dihuni oleh Dewi Waraswati (61 tahun), pewaris dan pengasuh rumah tua.

Keluarga percaya rumah itu dibangun pada 1758 dan tetap utuh hingga hari ini. Artinya, rumah tersebut lebih tua dari Masjid Agung Keraton Surakarta yang didirikan pada tahun 1763.

Rumah tua ini adalah rumah bagi ras Martodinaman, diambil dari kakek Dewi, seorang ahli batik lokal.

Menurut Dewi, kakeknya pernah bercerita, Kampung Sayangan berarti kampung tembaga. Penduduk setempat juga membuat kendil uap dari tembaga.

Seiring waktu, banyak orang beralih ke pembuatan cap untuk digunakan dengan batik. Trah Martodinaman tidak terkecuali.

“Di teras ini, nenek saya dulu membuat perangko untuk membatik,” kata Dewi. Saat ini teras digunakan Dewi untuk berbisnis. Ditto, masih berkisar pada industri batik dalam negeri. Rumah bernama Dewi tidak berubah sejak dia masih kecil.

Arsitektur Maison Joglo, rumah ras Martodinaman, sebenarnya cukup mewakili wajah budaya Kota Solo.

Ada empat tiang saka atau guru di tengah ruangan yang disebut Dewi ‘Ngomah’. Sekadar informasi, pintu masuk berada di bagian rumah yang disebut ‘Gandok’.

Rumah ini memiliki dua gandok, yaitu gandok kiwo (kiri) dan gandok tengen (kanan).

Gandok, merupakan istilah kuno untuk gudang atau tempat penyimpanan barang oleh pemiliknya. Terkadang juga menjadi toko makanan.

Namun kini bagian ini difungsikan sebagai tempat menonton televisi.

“Lantainya selalu bata. Bata juga tidak bisa diaspal,” katanya.

Kemudian pergi ke bagian Ngomah. Begitu masuk, Anda akan langsung merasakan suasana lembab.

Sedikit sinar matahari mengintip dari celah di antara atap genting di atas kami. Patch yang disebut tumpang sari juga terlihat.

Menariknya, di bagian utara Ngomah terdapat kain hitam menutupi dinding berukuran 2m x 2m. Pada kain hitam itu terdapat tulisan yang artinya Dewi.

Boneka mirip gajah ditampilkan duduk di bulan sabit. Dewi mengatakan bentuk rumah kayu di rumah berukuran 25m x 10m ini tidak pernah berubah.

Hal unik adalah bahwa setelah diperiksa lebih dekat, tidak ada satu paku pun di rumah ini. Dewi mengatakan rumah tersebut dibangun dengan sistem lepas-pasang. Kombinasi dinding jati juga kayu.

“Tidak, tidak ada paku. Ini kayak kayu selundupan dan ada bunker” kata Dewi.

Bunker yang dibangun untuk bersembunyi dari tentara Belanda.

Cerita Kampung Sayangan di kawasan Laweyan adalah kampung yang berjuang, karena berafiliasi dengan Sarekat Dagang Islam (SDI).

“Ceritanya dulu kampung sengsara. Ada tetangga yang rumahnya di bom Belanda. Dua rumah yang lalu,” kata Dewi menceritakan pengalaman kakeknya.

“Pada zaman Belanda, ketika Belanda (tentara) datang, kami melihat bunker,” tambahnya.

Pada masa Dewi kecil, bunker sering digunakan untuk bermain petak umpet. Sayangnya, pada pergantian milenium, bunker ini ditutup.

Dewi tidak merinci lebih lanjut alasan penutupan tersebut.

Di sisi lain, di balik nilai sejarahnya yang sangat menarik, fakta membuktikan bahwa sangat sedikit wisatawan atau turis yang berkunjung ke rumah laweyan tertua ini.

Bahkan, dalam peta yang diberikan Laweyan kepada wisatawan, lokasi rumah ini terdaftar.

Dewi sendiri tidak peduli dan hanya bersyukur rumah ini masih dihuni oleh keluarga dan orang-orang tersayang.

“Biasanya orang yang baru datang dari perguruan tinggi. Tapi Alhamdulillah doanya Simbah semoga rumah ini milik keluarga, milik anak cucu, yang belum punya rumah silahkan tinggal di sini,” ucap Dewi.

Meski memiliki nilai sejarah yang menarik, faktanya sangat sedikit wisatawan atau wisatawan yang berkunjung ke Omah Lawas Laweyan ini.

Bahkan, dalam peta yang diberikan Laweyan kepada wisatawan, lokasi rumah ini terdaftar. Dewi sendiri tidak peduli dan hanya bersyukur rumah ini masih dihuni oleh keluarga dan orang-orang tersayang.

“Biasanya yang dari universitas saja yang datang. Tapi Alhamdulillah, doanya Simbah rumah ini milik keluarga, milik anak cucu, yang tidak di rumah silakan tetap di sini,” kata Dewi berbisik.

Ketika ditanya apakah rumah itu akan dijual atau dijadikan cagar budaya, Dewi menolak. Menurutnya, tentu alangkah baiknya jika rumah ini menjadi cagar budaya, namun keluarganya tetap bisa tinggal di sana.

“Tidak pernah ada bayangan untuk dijual. (Jika digunakan sebagai cagar budaya umum) Ya, tidak, kami masih ingin tinggal di sini. Karena nilai sejarah untuk keluarga kami. Tentu warga bisa menikmatinya, tapi ya kita masih hidup,” kata Dewi.

“Nggak pernah ada bayangan untuk dijual. (Kalau dijadikan cagar budaya seutuhnya) Ya jangan, kami tetap mau tinggal disini. Karena ada nilai sejarahnya bagi keluarga kami. Tentu warga boleh turut menikmati, tapi ya tetap kami tinggali,” kata Dewi.

sumber: sonora.id