Posted on

Oleh Arief syahroni. Penulis adalah Ketua Umum Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Pidie.  Mail ariefsyahroni79@gmail.com

Kita tahu bahwasanya Aceh sebagai daerah penghujung paling barat Indonesia yang memiliki bermacam-macam budaya dan adat yang sepatutnya harus dipertahankan untuk dilestarikan.

Kemudian melihat kemajuan teknologi yang semakin pesat membentuk budaya baru  yang dikenal sebagai digitalisasi.

Era ini membentuk budaya baru bagi masyarakat Aceh khususnya pemuda di Aceh, dan hal ini tentunya memberi tantangan baru kepada masyarakat Aceh khususnya bagi pemuda dalam menjaga dan merawat budaya, adat atau sejarah Aceh untuk diperkenalkan nilai nilai kepada generasi Aceh selanjutnya.

Pemuda Aceh harus menyadari mereka mengemban tanggung jawab moral untuk  memperkenalkan budaya, terutama dalam pergaulan sehari-hari sehingga generasi Aceh mengerti esensi dan nilai yang terkandung pada setiap adat istiadat dalam kebudayaan Aceh.

Dulu kita sering mendengar pepatah dalam bahasa Aceh kita menyebutnya sebagai peunetoh atau hadismaja yang memiliki peran sangat krusial dalam pembentukan karakter generasi Aceh

Dengan mengetahui nilai filosofis dari sesuatu dari apa yang kita lakukan pasti memicu rasa kebanggaan tersendiri terhadap sesuatu hal yang menjadi karakter sosial masyarakat Aceh.

Dengan demikian pula tentu pemuda Aceh memiliki gairah untuk menjaga budaya dan adat supaya tidak hilang diterpa gelombang globalisasi dan modernisasi di era milenial ini.

Melihat begitu pesatnya perkembangan dunia, terlebih dibidang komunikasi dan informarika tentunya mempunyai dampak tersendiri bagi suatu komunitas masyarakat terlepas dari pengaruh positifnya, nyatanya pengaruh negatif juga mempunyai dampak begitu besar dalam  menghegemonikan pikiran dan pola kehidupan masarakat disuatu wilayah khususnya di Aceh dan Pidie tentunya.

Pemuda Aceh harus punya rasa ingin tau yang lebih tentang aceh, bukan sekedar aceh sebagai daerah penganut syariat islam, dan membanggakan Aceh dulu yang pernah berkuasa hingga semenajung Malaya.

Euforia akan sejarah ini tentu hal yang penting, akan tetapi jangan terjebak didalamnya pun membuat kebudayaan stagnan dalam melihat keadaan sosial terus dinamis dan berkembang.

Kemajuan teknologi tentu memberi pengaruh besar akan hilangnya adat dan budaya apabila masyarakatnya tidak bisa menyimbangi kemajuan zaman dan kebudayaan.

Perkembangan zaman sebenarnya hanya paradoxs bagi kebudayaan, kita sering beranggapan modernisasi musuh bagi kebudayaan, tetapi modernisasi jugalah yang menjadi sahabat bagi kebudayaan.

Maka Kebudayaan dan modernisasi seharusnya berkolaborasi bukan justru berkompotisi, seharusnya kita harus mulai sadar dengan pesatnya era digitalisasi ini menjadi suatu hal yang harus di manfaatkan untuk kemajuan daerah Aceh khususnya kabupaten Pidie yang kita cintai ini.

Kuncinya adalah dikarakter dan moral dari generasi muda Aceh, jika tenggelam dengan era modernisasi tanpa menyimbangi dengan kebudayaan maka akan menimbulkan hilangnya arah kebudayaan aceh kedepan.

Kita berharap generasi muda akan menjadi kontrol dari segala masa depan suatu peradaban dan kebudayaan, kita harapkan pemuda melakukan hal yang produktif, inovatif, pemuda harus menjadi kontributor bagi Pengambangan budaya Aceh untuk melestarikan keberagaman yang ada di Indonesia.

sumber: atjehwatch.com