Posted on
Sebagai Diplomat, Politikus dan Ulama, KH. Agus Salim dikenal mengedepankan rasionalitas. Misalnya dalam soal berpuasa yang lazimnya mengikuti waktu matahari terbit dan terbenam. Namun, saat berdiplomasi di  Markas Besar PBB New York, Amerika Serikat, KH. Agus Salim tetap pada pendirian Sahur pukul 4 subuh dan berbuka pukul 7 malam seperti kebiasaan di Indonesia dan Jeddah Arab Saudi. Padahal sesuai waktu setempat, berbuka seharusnya pada pukul 10 malam karena saat itu musim panas. Ada benarnya, sikap tersebut secara rasionalitas. Coba, Kita bayangkan bagaimana kalau kita berpuasa di Skandinavia ketika ada saat tertentu di sana di mana matahari sama sekali tidak tenggelam selama 24 jam?
Salim pernah membuat kesal seorang ulama senior ketika itu Salim bertanya:
“Apakah Adam dan Hawa itu punya pusar?” tanya Salim.
“Punya. Mereka kan manusia seperti kita.” Jawab Ulama senior itu. Dan entah bagaimana si ulama tahu sampai segituyakinnya? kemudian Salim bertanya lagi:
“Berarti mereka berdua ada yang melahirkan. Bukankah pusar itu penghubung antara janin dan rahim ibunya, sehingga janin tersebut memperoleh asupan oksigen dan makanan.” Ujar Salim.
Si ulama sok tahu itu terkesiap, lalu mencak-mencak dan mengutuki Salim sebagai ahli bid’ah, murtad, calon penghuni neraka, dan seterusnya.
sumber: pemudamuslim.org